Konektivitas: RoRo Bitung-Davao akan kembali beraktivitas di tahun 2019

Kota Kinabalu, 14 Februari 2019.  Isu konektivitas menjadi isu penting dalam kerja sama BIMP-EAGA dalam mendukung pencapaian visi BEV 2025.  Dalam rangkaian pertemuan BIMP-EAGA SPM 2019 kemarin telah dilakukan beberapa pertemuan bilateral khusus membahas mengenai konektivitas yaitu RoRo Bitung-Davao dan konektivitas darat antara Kalimantan Utara dengan Sabah, Malaysia. 

“Ro-Ro Bitung-Davao telah diluncurkan oleh Presiden Jokowi dan Duterte pada 30 April 2017, namun sampai saat ini baru dua kali terjadi pelayaran” ungkap Netty Muharni.  “Masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu diselesaikan seperti: tarif angkut yang relatif mahal, penyesuaian regulasi dan komoditas yang akan diangkut” lanjut Netty.  Berkenaan dengan hal tersebut, maka pada tanggal 14 Februari 2019 dalam sela-sela pertemuan SPM dilakukan pertemuan bilateral antara Indonesia dan Filipina khusus membahas mengenai keberlangsungan RoRo Bitung-Davao.  Hal ini juga sesuai dengan arahan para Menteri dalam PTM BIMP-EAGA ke-22 bulan November 2018 di Kuala Belait, Brunei Darussalam.  Dalam pertemuan bilateral tersebut, Indonesia menyampaikan update terkait dengan proses untuk masuknya komoditas pisang, bawang merah dan nanas dari Filipina.   

“Sebagai tindak lanjut dari kunjungan Tim Kementan dan Kemendag ke Filipina akhir Januari 2019, maka saat ini Badan Karantina Pertanian telah mengeluarkan Surat Pest Free Area (PFA) yang menyatakan bahwa buah pisang dan bawang merah dari Filipina (Davao) sudah bebas hama penyakit” terang Netty.  Berdasarkan surat PFA tersebut nantinya akan ditindaklanjuti untuk penerbitan surat rekomendasi produk impor dan persetujaun impor sebelum dilakukan impor melalui Bitung.  “Namun demikian, Indonesia juga minta pihak Filipina dapat mencabut Special Safeguard (SSG) produk kopi instan Indonesia yang masuk ke Filipina apabila produk pisang dan bawang merah sudah bisa masuk melalui Bitung” lanjut Netty. 

Sementara pihak Filipina menyampaikan update bahwa salah satu perusahaan kapal yang mengoperasikan kapal jenis Reefer dengan kapasitas 100-120 TEUS siap melakukan pelayaran untuk rute Bitung-Davao.  Terkait dengan hal ini disepakati untuk menghidupkan kembali Joint Task Force yang sudah ada guna membahas keberlanjutan rute Bitung-Davao.  “Kita akan segera melakukan pertemuan antar Task Force untuk membahas lebih lanjut” pungkas Netty dan disetujui perwakilan Filipina. 

Di hari yang sama, juga dilakukan pertemuan informal antara Indonesia-Malaysia dan ADB guna membahas usulan Indonesia terkait usulan Feasibility Study terhadap 3 (tiga) ruas jalan yang menghubungkan Kalimantan Utara-Sabah dan Sarawak. ADB secara prinsip menyepakati usulan Indonesia untuk dapat dilakukan Feasibility Study terhadap 3 (tiga) ruas jalan yang diusulkan oleh Indonesia” jelas perwakilan ADB Sementara itu, “Pihak Malaysia mendukung usulan Indonesia, namun untuk tahap I minta difokuskan pada 1 (satu) ruas jalan terlebih dahulu yaitu: Malinau-Krayan-Long Midang (Indonesia) menuju Lawas (Sarawak, Malaysia)” lanjut Netty.  Detail pelaksanaan selanjutnya akan dibahas secara bilateral antara K/L terkait dengan perwakilan ADB di Jakarta” tutup Netty.